Target sebuah agama bukanlah pada jumlah penganutnya


Belakangan beredar sebuah hasil penelitian dan proyeksi dari Pew Research Centre, dalam penelitian tersebut diperoyeksikan bahwa jumlah penganut agama agama didunia pada tahun 2050 akan mencapa jumlah tertentu.  Saya agak tergelitik dengan adanya survey semacam ini karena menurut pandangan saya bahwa keberhasilan sebuah agama bukan ditentukan oleh berapa jumlah penganutnya. Kalau hanya dinilai dari keberhasilannya meraih penganut maka agama tidak lebih hanya sebuah komoditi yang diperjual belikan untuk meraih omset tertentu. Karena didalam agama yang diniliai lebih banyak ke masalah spiritualitas atau hubungan kita dengan Sang Pencipta yang oleh orang beragama dipanggil Allah atau Tuhan, bukankah demikian.  Sangat memalukan adanya jika ternyata jumlah yang banyak tersebut tidak diiringi dengan kualitas yang baik. Artinya sudah terjadi pergeseran focus dari menjadikan seseorang mengenal Tuhan, melaksanakan kehendakNya, menjauhi laranganNya menjadi berlomba dalam jumlah, asal jumlah tercapai maka seolah olah agama tersebut menjadi pemenang. Tentu ada banyak cara kalau hanya sekedar meningkatkan jumlah penganut agama, salah satunya adalah dengan program memperbanyak kelahiran diantara para penganut yang ingin tercapai jumlah/targetnya. Bukan pada bagaimana melakukan pemeliharaan atau maintenance terhadap iman mereka. Masalah jumlah saya pikir bukan isyu pokok yang menentukan apakah penganutnya akan berkualitas benar benar melaksanakan kehendak nabinya atau Tuhannya atau hanya sekedar sebuah organisasi  yang tidak lebih dari organisasi sekuler berlabel agama, kumpulan orang orang yang melegitimasi dan berbangga hati karena merasa sudah berlabel agama X. Inilah yang rupanya harus disadarkan bagi kita.

Tugas pemimpin umat bukanlah terpaku dalam pencapaian jumlah tertentu namun lebih dari sekedar mempertobatkan mereka yaitu memelihara iman mereka, menyediakan lingkungan/komunitas yang baik bagi pertumbuhan iman penganut agama. Soal jumlah adalah urusan Tuhan, bahwa Tuhan tidak menilai iman seseorang juga dari banyaknya penganut sebuah agama. Sejauh mana kita sebagai umat yang sudah bertobat itu melakukan transformasi menjadi penganut agama yang punya iman yang dewasa, menjadi manusia manusia yang berdampak positif terhadap keluarga, lingkungan dan negaranya. Kita bukan hendak menjadi sebuah batalyon tentara yang akan melawan musuh, namun sesungguhnya orang beragama harus menjadi contoh teladan bagi siapapun yang menjumpainya. Kita seperi kitab yang terbuka yang dibaca semua orang, kadang kadang orang awam melihat agama dari perbuatan kita sehari hari, ketika perbuatan kita ternoda sesungguhnya masyarakat akan menilai langsung kepada agama yang kita anut, meskipun ini juga bukan cara yang bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s