Berhentilah menjelek-jelekkan lawan


Semakin mendekati hari pemilihan presiden di Indonesia, banyak website, blogm social media yang dipakai propaganda oleh masing masing pendukung capres dan cawapres. Isinya macam macam, mulai memuji muji sampai mencaci maki, kadang kadang mengungkap fakta dengan mencaci maki hanya beda beda tipis. Itu kalau faktanay sudah buruk kemudian diungkap ungkap maka akan menjadi semakin buruk. Bila kenyataannya sudah baik maka tidak perlu terlalu diungkap pun sudah kelihatan baik.

Semua hingar bingar politik ini menjadi semakin cepat berkembang tentu tidak lepas dari peran media social di akhir akhir ini. Semakin menjamurnya media social yang sesungguhnya dibuat untuk menjalin silaturahmi, kini dipakai untuk saling mencaci. Tidak ada yang salah dengan media social, dia hanya laksana pisau dapur yang kadang dipakai untuk mengiris daging kadang ada yang memakai untuk menodong orang. Tentu pak menteri tidak perlu repot repot menutup media social yang bertebaran bak jamur, tak perlu juga menutup website dan blog blog gratisan yang isinya hanya sampah. Semua toh akhirnya berpulang kepada pemakainya, kepada hati nurani masing masing.

Dampak yang begitu besar ini tidak terjadi jika: tak ada jaringan internet, semua dipopulerkan melalui dunia yang satu ini, dunia maya. Jika isyu hanya dihembus melalui telepon dan sms maka tentu tidak akan seheboh melalui dunia audio dan visual. Dimana ini hanya sebuah euphoria sebagian orang yang mulai “senang menulis” kalau tidak bias saya katakana menjelek jelekan. Mereka itu sedang belajar menulis, dan belajar membaca. Hanya saja bahan yang dibaca dan yang ditulis topiknya tentang segelintir orang dan khusus menjelek jelekkan. Saya masih merasa bersyukur mereka akan melanjutkan kebiasaan menulisnya untuk hal hal yang lebih baik. Saya lalu teringat dengan pelajaran mengarang ketika masih di sekolah dasar, sebagian anak merasa pelajaran mengarang adalah pelajaran maha susah yang pernah ada. Namun barangkali mereka disuruh menulis tentang sesuatu yang buruk, misalnya saja :”Tentang keburukan guru mereka” atau tentang kenakalan teman mereka, tentu saja itu akan mudah dilakukan karena ternyata mengingat keburukan menjadi lebih mudah dilakukan dibanding mengingat kebaikan.

Tidak usah jauh jauh, beberapa acara televise yang menayangkan obrolan pakar pakar hokum, katanya. Bukankah itu juga lebih banyak menebar keburukan orang disbanding kebaikannya meski notabene dipandang dari sisi hokum. Rakyat kita mulai menganggap hal hal tersebut sebagai sebuah “hiburan”. Kalau dijaman saya kecil lawakan dari grup pelawak semacam surya grup, S Bagio, Basiyo, Kwartet S, DKI, Srimulat dan sebagainya sangat dinantikan, sangat menghibur. Namun sekarang yang dinantikan pemirsa adalah ocehan ocehan rerasan tentang pejabat, selebritis, orang kaya, politkus dan sebagainya. Lantas siapakah sebenarnya yang andil dalam hal ini? Boleh jadi pasar juga punya andil, alias saya dan saudara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s