Aku ingin Jogja masyarakatnya taat hukum


 aku ingin jogjaSaya mengenal Kota Jogja barangkali sudah lebih dari 30 tahun, semenjak saya suka dengan tiga buah toko buku yang menjadi favorit saya ketika saya masih duduk dibangku SMU. Toko buku yang saya maksudkan adalah toko buku Hien Hoo Sing yang terletak di Malioboro ( sekarang sudah berubah nama ), toko buku Gunung Agung yang terletak di jalan Diponegoro ( sekarang sudah tutup ) serta toko buku Gramedia di perempatan Korem.  Sungguh saya sangat terkesan dengan ke tiga toko buku tersebut.  Dahulu saya punya gambaran bahwa Jogja ini gudangnya buku buku yang susah didapatkan di kota lain.   Maka jika sudah berada di Jogja saya akan banyak menghabiskan waktu saya di toko toko buku tersebut.  Masih ada satu toko buku alternatif yaitu kios kios di shopping dimana saya bisa menghabiskan waktu ber jam-jam mengobrak abrik tumpukan buku buku lama maupun buku buku murah.

Meski saat itu saya belum menjadi penduduk Jogja, namun ketika berkunjung memasuki kota Jogja, terutama didaerah Janti maka suasana unik dan etnik sudah dapat saya rasakan.  Memasuki Jogjakarta dari arah timur selalu melewati Hotel Ambarrukmo Palace, dahulu hotel ini menjadi sebuah kebanggaan Jogjakarta karena sangat besar dan mewah.  Semakin ketimur menyusuri Jalan Urip Sumoharjo sampai ke Jalan Jenderal Sudirman kita bisa melihat Andong andong dan sais yang memakai lurik adalah sebuah pemandangan yang sangat unik dan menjadi ciri khas Kota Jogjakarta, lalu lintas belum sepadat sekarang. Jika perjalanan diteruskan maka sampailah saya ke sebuah perempatan besar dengan sebuah Landmark berupa Tugu Jogja.

Tugu adalah sebuah kebanggaan bagi masyarakat Jogja dan juga para wisatawan. Bahkan para mahasiswa lulusan perguruan tinggi di Jogja menyempatkan diri berfoto di depan Tugu ketika mereka habis wisuda.  Tetapi sayangnya lingkungan sekitar Tugu tidak dijaga keindahan dan kebersihannya. Perihal kebersihan kota dari coretan coretan dinding yang tidak perlu itu salah satu yang sampai saat ini masih saya perhatikan. Saya sangat prihatin dengan coretan coretan di dekat Landmark Kota semacam Tugu.  Susah payah Tugu yang kita cintai ini direnovasi beberapa kali, sampai sampai Tugu “dilindungi” dengan area dimana orang orang tak diijinkan secara langsung menyentuh Tugu.  Bukan dengan maksud apapun namun agar Landmark ini tetap terjaga dengan baik kebersihannya. Namun di balik itu daerah sekitarnya pun sebaiknya dijaga kebersihannya, keindahannya.  Jika kita melihat sekitar Tugu Jogja maka ada benyak “kotoran” yang bisa berupa : coretan grafiti di rumah rumah, bilboard bilboard yang tidak senafas dengan landmark Jogja.  Saya mempunyai ide bagaimana jika papan iklan yang berada dilingkungan Landmark tugu dibingkai dalam sebuah bingkai khas bercirikan bentuk dan warna kota Jogja?. Tentu iklan yang diijinkanpun adalah iklan iklan tertentu yang mendukung pariwisata Jogja, misalnya : oleh oleh khas, hotel, tempat wisata, restauran bukan sembarang iklan boleh dipasang dan tidak boleh ada iklan sejenis yang ditampilkan.  Pemkot harus selektif memilih siapa siapa saja yang berhak beriklan karena ini akan mempengaruhi citra Kota Jogjakarta. Jika wisatawan masuk melalui arah utara maka tentu landmark Tugu Jogja ini yang akan dijumpainya pertama kali, oleh karenanya Tugu saya anggap mempunyai kekuatan promosi yang sangat kuat dan strategis.  Semata mata untuk menciptakan sebuah suasana Kota Jogja yang indah dan unik ketika kita mengunjungi landmark Tugu.

Itu hanya satu contoh untuk kebersihan, ada contoh lain lagi yaitu tentang semakin semrawutnya lalu lintas Jogja. Semakin mudahnya memiliki motor barangkali membuat semakin banyaknya kendaraan roda dua itu berseliweran. Sayangnya masih banyak pemotor yang jauh dari memiliki sikap sopan dan saling menghormati dengan sesama pemakai jalan. Tidak memakai helm, berjalan diatas batas kecepatan, menerobos lampu lalu lintas, berkendara ugal ugalan itu adalah hal biasa yang saya jumpai di Jogja.  Lampu lalu lintas yang dilengkapi papan peraga waktu sudah tidak lagi diperhitungkan, selain ketika mendekati angka nol untuk berjalan pasti sudah menerobosnya. Kadang justru yang tertib diklakson klakson agar ikut ikutan tidak tertib, ironis sekali.

Di sisi transportasi bus kota betapa asap hitam mengepul dari knalpot knalpot bus yang sudah tua. Bukankah polusi itu buruk bagi setiap orang? Setiap pagi anak anak berangkat sekolah baik dengan sepeda, dibondeng motor akan menghirup tebalnya asap buangan bus kota. Karena di  pagi itu bus kota bus kota itu juga sudah mulai meluncur membelah keramaian Jogjakarta menghantar penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya. Sama sama melakukan pekerjaannya namun bisa jadi merugikan orang lain dengan asapnya.

Jika semua contoh itu diperas maka akan ternyata bahwa hal hal tersebut terjadi karena adanya peraturan dan hukum yang tidak ditegakkan, corat coret, pelanggaran lalu lintas, polusi llau lintas, semuanya akan terkendali jika masing masing pihak taat hukum.  Selain itu aparat penegak hukum pun sebaiknya jangan ragu bertindak, kehalusan budi warga Jogja tentu tidak akan terusik meskipun penegak hukum melakukan fungsi yang sebagaimana mestinya tanpa pandang bulu.

Marilah jadikan Kota Jogja tercinta ini sebagai Kota yang taat hukum sehingga banyak orang semakin krasan berada disini. Tentu saja lama tinggal wisatawanpun akan bertambah lama, itu artinya pendapatan masyarakat dan pemerintah juga akan bertambah.

Sukses buat masyarakat Jogja, mari kita kawal bersama penegakkan hukum di kota kita tercinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s