THR oh THR jangan mepet Boss !!


Ketika sedang membayar belanjaan di sebuah supermarket saya melihat seorang gadis sekitar 20 tahun berbelanja macam macam barang. yang sempat saya lihat : jeruk mandarin, gula, tisyu, sardine, piring, mie instant dan lain lain. Pakaiannya menmperlihatkan jika dia adalah karyawati sebuah took tertentu. Saya melihat merk took di belakang tshirt nya yang sudah kusam dan tidak jelas dibaca. Saya melihat dompetnya baru, dengan beberapa lembar ratusan baru juga. Nampaknya dia sedang membeli berbagai kebutuhan untuk dirinya sendiri atau untuk orang tuanya, adiknya dan orang orang yang dikasihinya.  Saya melihat ada suka cita didalam antusiasme berbelanja. Disemangati Hari Raya idul Fitri nan penuh keampunan dan kesucian.  Angan saya menerawang ke sebagian orang yang dinamakan BOS. Para bos saat ini tengah mempersiapkan yang namanya THR atau Tunjangan Hari Raya untuk para karyawannya. Tentu ada banyak sikap yang diambil oleh para bos ini.  Ada yang menggerutu karena harus mengeluarkan uang ekstrabesar sementara penjualan yang terjadi tidak sebesar bulan-bulan yang lalu, bisa jadi karena Bulan Puasa.  Ada bos yang penuh syukur bersukacita karena demi melihat sesungging senyum diujung bibr para karyawannya.  Mereka yang sudah ikut berjuang keras menghasilkan penjualan bagi si Bos. Kini di saat yang membahagiakan ini menerima Tunjangan, mereka dapat menggunakannya untuk kebutuhan baju baru, ber zakat, makanan dan lain lain. Bos mendoakan agar THR yang dibagikannya menjadi “berkah” bagi kesejahteraan karyawannya.  Sungguh sebuah kelegaan yang luar biasa dikala kita bisa saling berbagi. Ada bau opor yang menggoda selera, ketupat yang siap disantap bersama. Kue kue nastar dan lidah kucing yang menambah keakraban. Semua merupakan suasana khas yang pasti diimpikan setiap keluarga Muslim di Indonesia.

Kita menjadi trenyuh ketika melihat bahwa ternyata hanya pada saat lebaran inilah ada segelintir keluarga yang bisa makan opor ayam  enak. Sedangkan dihari hari biasa bahkan tempe pun mereka harus silih berganti memakannya. Kenyataan ini hendaknya mendorong Bos agar bisa memberikan THR pada saat yang tepat. jangan memberikan THR dengan waktu yang begitu mepet dengan hari raya, karena tentu sudah tidak ada gunanya. Momen yang ditunggu tunggu tidaklah tepat adanya.  Biarkan mereka merasakan nikmatnya berbagi meski dalam keadaan yang sederhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s