Sikap mental berbangsa dan bernegara


Belakangan hari ini bangsa Indonesia diguncang berbagai permasalahan yg mengancam persatuan bangsa. Mulai dari masalah aliran keagamaan yg dianggap sesat, permasalahan bom yang ditujukan kepada perseorangan maupun rumah ibadah, tawuran antar pelajar.  Banyak kali hal hal tersebut menerpa Indonesia sebagai Bangsa yang Besar. Tulisan ini saya turunkan bukan untuk menggurui, namun untuk menggugah kembali akan sikap sikap hidup kita dalam berbangsa yang sebenarnya sudah kita miliki namun mengalami pergeseran.  Beberapa hal yg perlu dikembangkan dalam hidup berbangsa :

Saling menghargai

Jika sebagai bangsa yg besar kita senantiasa disejajarkan dengan bangsa bangsa beradab lain didunia, rupanya ini belum memotivasi anak bangsa untuk melakukan hal yang sama di lingkungannya masing masing. Saling menghargai antara majikan dan PRT, antara penumpang dan supir taksi, antara bos dan bawahan, antara pemimpin partai dengan aktivis dan simpatisan, antara rakyat dan wakil rakyat, antara pemimpin agama dengan ummat, rakyat jelata dengan aparat hukum dan masih banyak contoh lainnya. Saling menghargai adalah meletakan orang lain sejajar dengan kita, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, nampak sepele namun dalam kondisi jaman yang penuh dengan persaingan memaksa seseorang akan menginjak, menindas, mengeleminasi, meniadakan, membunuh, memusnahkan yang lain demi mengejar ambis pribadinya.

Mengembangkan sikap saling percaya

Sebagai lawan kata sikap “saling percaya” adalah “ saling curiga”. Sikap ini sangat menguras energi, bayangkan saja ketika seseorang majikan mencurigai pembantunya telah mencuri uangnya maka setiap kali bertemu muka yang ada adalah bayangan seorang pencuri yang telah memperdaya hartanya. Padahal bisa saja kita sendiri yang lupa menaruh uang milik kita. Sikap saling curiga bisa dikembangkan atau di hembuskan oleh “lawan lawan” kita atau lawan lawan politik kita untuk memecah kekuatan, memecah konsentrasi. Dengan isyu seperti itu seseorang tidak akan lagi berpikir “corps” namun lebih berpikir pada pribadi masing-masing. Pribadiku adalah sempurna, terbaik, ter jujur sedangkan orang lain pasti jahat, suka mencuri, suka merampok dan lain sebagainya. Adanya sikap “saling” diharapkan memberikan pedoman bagi setiap individu untuk melakukan kejujuran juga jika ingin dipercaya oleh orang lain demikian pula dengan individu lainnya.

Bersikap Jujur

Berkaitan dengan sikap saling percaya adalah sikap jujur. Sikap ini nampaknya sudah semakin usang saja untuk diperbincangkan. Memang kejujuran bukan hanya monopoli golongan akar rumput saja, namun semua anak bangsa ini perlu menjaga benar kejujuran. Memang jujur saja tidak cukup, namun tidak jujur berarti sudah kehilangan integritas diri sebagai orang yang layak diberikan tanggungjawab yang lebih besar dalam dunia ini.

Bertanggung jawab

Sikap bertanggungjawab adalah sikap seorang ksatria. Apapun resikonya tanggungjawab harus dikedepankan. Baik secara individual maupun secara kolektif, namun tentunya sikap yang dikembangkan haruslah sikap mental positif. Bertanggungjawab menjalankan tugas dan amanat rakyat adalah perlu dikembangkan oleh wakil rakyat di DPR, misalnya saja. Para pelaku teror adalah contoh manusia manusia tanpa tanggungjawab apapun alasannya apakah itu membela agama atau yang lainnya.  Di Indonesia para pelaku kejahatan korupsi, teroris selalu bersembunyi dan berkelit ketika diketahui sepak terjangnya oleh aparat. Ini mengingatkan saya pada Kisah dimana Adam dan hawa bersembunyi ketika mendengar langkah Tuhan di taman EDEN sesaat setelah dia “mencuri” buah pengetahuan baik dan buruk. Sikap bertanggungjawab bisa dikembangkan semenjak seseorang masih kecil yaitu dengan memberikan tugas tugas ringan, kemudian kita evaluasi apakah tugas itu selesai dengan baik. Jika seseorang tidak bisa bertanggungjawab pada hal-hal kecil maka dia tak akan bisa bertanggungjawab untu hal-hal yang lebih besar.

Mengembangkan sikap toleransi

Toleransi atau tenggangrasa sebenarnya adalah sikap dasar dari bangsa Indonesia. Karena melalui sikap inilah kehidupan sosial di daerah pedesaan tetap bisa terjaga konsistensinya. Misalnya saja dalam hal hari raya keagamaan, justru didesa terasa sekali sikap guyub dan tenggang rasa. Saat lebaran pun mereka yang non muslim memasak opor dan makan bersama sama dengan saudara saudara muslimnya. Demikian pula saat Natal tiba mereka non muslim tanpa berpikir terlalu rumit juga memberikan selamat dan ikit bersuka cita. Hal hal sederhana seperti ini kadang menjadi sesuatu yang rumit ketika sudah tercampur dengan sikap egois individualis yang terlalu kuat.  Dinding dinding hati dan perbedaan yang semakin mencolok diperkotaan membuat seseorang tak punya tenggangrasa dengan tetangganya. Bila sikap ini berkembang dalam kehidupan berbangsa maka tentu akan semakin sulit mengurainya. Toleransi diibaratkan seperti seolah memberikan sedikit hak kita untuk sesuatu kebersamaan yang lebih besar.

Sekelumit pemikiran saya ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak sikap mental sikap mental positif lainnya yang harus kita gali dan kembangkan agar bangsa kita tidak mudah digempur dengan berbagai isyu dan permasalahan yang memecahbelah. Ingatlah pembaca yang budiman bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yg sangat diperhitungkan oleh negara negara lain. Perbaikan internal sangat kita perlukan demi menjawab tantangan dari luar. Bila hanya untuk bersatu saja kita sulit, maka kedepan kita akan mengalami permasalahan yg lebih sulit karena tak bisa menghadapi ancaman ancaman dari luar. Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s