Ujian kesabaran


Ayah saya menderita parkinson sudah hampir sepuluh tahun terakhir ini.  Memang tidak begitu terlihat tremornya namun jika obat yang diminumnya dihentikan selama seminggu maka anggota gerak seperti kaki dan tangan seolah kaku tak mampu digerakan.  Gejala ini sebenarnya sudah nampak ketika pertama kali ayah saya seperti menderita flu namun tiba tiba tidak dapat berjalan. Seolah lumpuh dikedua kakinya. Kemudian dokter menganjurkan agar di opname dan diberikan obat bernama Artane kemudian sembuh, dari situlah penyakit Parkinson itu dideritanya. Kini setelah memasuki usia diatas 70 an ada tambahan pengapuran tulangnya. Sungguh sebuah kesulitan baru baginya karena sekarang mobilitasnya hanya terbatas di tempat tidur saja. Meskipun secara kasat mata dia tetap bisa berkomunikasi dan membaca koran setiap pagi, makan nasi sendiri. Namun  tetap saja dalam kondisi perlu pengawasan dan perawatan dengan minum obat rutin setiap hari.  Kini obat Artane sudah tidak diproduksi, sebagai gantinya adalah Sifrol yang harus diminumnya bersama dengan multivitamin yang digunakan untuk menjaga staminanya.

Saya sengaja tidak memakai perawat untuk merawatnya, karena saya rasa dengan kondisi semacam itu saya masih mampu melakukan perawatan sendiri. Bila flu yang agak berat, paling saya lakukan adalah memanggil dokter untuk Home Service. Saya biasa memakai Rumah Sakit Ludira Husada Yogyakarta untuk home service ke rumah saya.

Namun namanya juga merawat orang tua memang diperlukan kesabaran ekstra, misalnya saja kesabaran untuk menunggu ketika dia sedang melakukan aktivitas rutin seperti BAB. Tentu ini akan mengasah perangai saya sebagai orang yang kurang sabar.

Beberapa hobi saya pun seperti fotografi yang baru saya kenal beberapa tahun terakhir ini sempat “terganggu” karena aktivitas fotografi selalu bagus dimulai saat matahari terbit dipagi hari.  Sementara disaat pagi itulah saya harus melayani ayah saya, membantu mempersiapkan air untuk mandi, peranti untuk gosok gigi, membuatkan bubur havermut, membuat teh manis kesukaannya. Setelah itu baru saya dapat mengantar anak saya ke sekolah yang kebetulan berjarak  sekitar 7 kilometer dari rumah sebelum akhirnya saya harus beraktivitas.  Demikian juga disaat sore ketika senja mulai memerah, itulah saat indah yang dinanti banyak peHobi fotografi untuk mengabadikan apapun yang tersapu sinar senja mentari. Disaat itulah saya juga tengah mempersiapkan makan malam bagi ayah saya. Alhasil hobi fotografi saya pun seolah mati suri, saya hanya belajar dan tak sempat mempraktekannya. Jika hendak bepergian agak jauh untuk hunting maka saya harus berbagi tugas dengan orang rumah seperti mbak yang membantu keperluan anak semata wayang saya, sedangkan istri saya juga bekerja memenuhi nafkah kami.  Finally saya ingin menyalurkan hobi fotografi saya dengan cara tidak tergantung pada apapun. Ketika rekan rekan mengajak saya hunting Model, saya tak cukup waktu. Ketika mereka hunting landscape lagi lagi jadwal tak klop. Belum lagi sekarang saya melayani di gereja meski bukan sebagai fulltimer, itupun cukup membuat saya harus membagi waktu dengan cermat. Karena tugas gereja adalah tugas non profit dan tugas pelayanan. Semoga sharing saya ini ada gunanya bagi pembaca, dan tetap doakan saya agar diberikan kekuatan. Sama seperti sayapun juga berdoa bagi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s