Memotret, mengasah rasa


Semakin banyaknya kamera digital yang beredar saat ini membuat seseorang semakin mudah belajar memotret. Bagi saya memotret itu sebenarnya didasari atas dua point besar :

• Rasa
• Teknis

Rasa sudah ada didalam diri kita masing masing, dalam hal ini rasa lebih ditekankan pada rasa melihat. Melihat sebuah pemandangan yang indah. Melihat sebuah kemiskinan. Melihat kegembiraan. Melihat cantiknya model. Melihat kemegahan candi dan sebagainya. Rasa bisa ditangkap melalui indera penglihatan. Agus Leonardus, seorang fotografer senior mengatakan “ Memotretlah saat kemu ingin memotret”, artinya ketika rasa atau mood memotret itu sedang ada maka memotretlah. Hasil yang diperoleh akan berbeda ketika kita sedang ogah ogahan, malas malasan, tentu karya yang dihasilkanpun tidak akan sebaik apabila sedang memiliki keinginan yang begitu kuat untuk memotret. Keinginan menyampaikan pesan melalui media foto pasti akan lebih tersampaikan manakala kita punya tujuan, tujuan itu bisa diperoleh melalui rasa.

Teknis, segala hal diluar rasa yang meliputi : pemahaman cara kerja kamera dan pendukungnya, penggunaan aksesoris sepert filter, memahami karakteristik cahaya, komposisi, sudut pandang, olah digital dan sebagainya. Semuanya itu dipakai sebagai sarana yang mendukung rasa. Artinya dengan segala kemampuan alat yang ada maka kita ciptakan karya fotografi yang maksimal, karya fotografi yang menyampaikan pesan dengan tepat. Namun jangan terpaku kepada alat, karena cara berpikir kita bisa juga dibalik yaitu bagaimana dengan alat yang kita miliki dapat menghasilkan karya yang maksimal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s