Lapar mata


Anak saya kevin, 8 tahun. Kadang kadang dia mengajak baby sitternya pergi ke sebuah minimarket didekat rumah kami. Saya selalu bertanya tentang apa yang hendak ia beli disana, biasanya ia akan menjawab “Susu Ultra Pi”. Namun setelah pulang akan terlihat bahwa tas plastik nya akan berisi : susu ultra, biskuat, trenz, biskuit kelapa dll. Namanya juga anak anak, ini yang sering saya sebut dengan “Lapar Mata”. Karena belum tentu yang ia beli tersebut ia makan semuanya. Karena apa yang ia beli tersebut ada diluar daftar belanjanya. Namun apa bedanya dengan orang dewasa? Bukankah kita seringkali juga mengalami lapar mata. Pengennya belanja bulanan ke supermarket, namun kenyataannya ada banyak barang barang yang sebenarnya belum kita perlukan atau bahkan tidak kita perlukan sama sekali. Apalagi namanya kalau bukan lapar mata, pada kehidupan berumah tangga dengan gaji yang dibilang tak berlebih banyak, maka lapar mata ini akan mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga bukan? Tentu kita akan melakukan pengiritan luar biasa ketika menjelang akhir bulan atau menurunkan spesifikasi barang barang kebutuhan kita. Biasanya minyak yang dibeli Bimoli, tiba tiba saja menjadi minyak curah, beras yang biasanya rajalele kemudian dibelikan beras C4. Namun adalagi bagi para pebisnis yang suka dengan lapar mata, melihat berbagai bisnis yang bertebaran di depan mata, berbekal dana yang berlebih seolah ingin mencaplok semua bisnis yang ada. Entah itu ada gunanya atau tidak ada gunanya secara spesifik baginya, yang penting ambil dulu, urusan lainnya belakangan saja. Bila tujuannya hanya sekedar untuk gagah gagahan dan mengumbar kesombongan saya kira tidak terlalu penting artinya. Kecuali dilandasi konsep membuka lapangan kerja, mendidik anak bangsa, menghindari eksploitasi tenaga kerja di negeri seberang.
Bisa saya katakan juga bahwa lapar mata adalah sama dengan mata keranjang, apa saja bisa dimasukan kedalam keranjang entah barang bagus atau barang jelek. Pendek kata semua masuk dah. Mari rencanakan segala sesuatu kebutuhan Anda terlebih dahulu. Pola konsumtif lebih banyak merugikan Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s