Nomer satu dunia akherat


Siang tadi saya seperti biasa menjemput pulang anak saya, kira kira pukul 13.30. Tahu sendiri kan jalan kalau jam jam segitu ampuun macetnya. Biarpun ini Jogja Bung bukan Jakarta namun tetep saja maceet. Ditengah hiruk pikuk lalu lintas, terdengarlah suara sirine memekakkan telinga dari arah belakang kendaraan saya. Sebentar kemudian beberapa orang nampak berlari lari kearah depan kendaraan saya seraya mengacung acungkan bendera putih dan memberi isyarat agar kendaraan kendaraan lain minggir dan memberi jalan pada rombongan tersebut. Ooh ternyata iring iringan mobil jenasah dan pelayatnya. Barangkali saja ia adalah seorang pejabat pada masa hidupnya atau orang penting apapun. Yang saya merasa heran adalah betapa manusia mempunyai sifat yang egois, semasa hidup saja kalau lewat dijalan selalu minta pengawalan nomer satu agar tidak terlambat. Setelah meninggalpun ternyata tetap meminta pengawalan agar bisa lewat duluan. Nggak tahu lah apakah dia nanti juga akan menjadi nomer 1 di akherat? “Yaaah itu kan bentuk penghormatan terakhir pak”, demikian kata sebagian orang. Bukannya berlomba menjadi nomer satu dalam berbuat baik namun agaknya menjadi nomer satu dalam hal lain, masih menjadi impian semua orang. Bahkan orang matipun masih bermimpi agar bisa menjadi nomer satu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s