MLM “hanya” sebuah pilihan


Ibu Desy seorang pengusaha cukup berhasil di kota Y, ia mempunyai sebuah toko dengan omset rata rata Rp 100 juta per bulannya. Suatu hari ia didatangi sepasang suami istri yang berbisnis MLM, pasangan tersebut mendistribusi produk produk buatan perusahaan MLM terkenal AM***. Dilihat dari produknya banyak orang tidak meragukan lagi, selain memang manfaatnya terbukti, perusahaan itu juga sudah lama berkiprah didunia networking. Namun ada yang aneh ketika mereka menyampaikan atau memperkenalkan produk nya kepada Ibu Desy. Distributor itu mengatakan demikian :” Kalau berbisnis seperti saya tidak terikat Bu, bisa bebas kesana kemari. Apalagi kalau Cuma untuk memperoleh omset Rp. 10 juta per bulan adalah masalah kecil”. Distributor itu tidak tahu jika Bu Desy perusahannya sudah ber-omset Rp. 100 juta per bulan. Ketika dengan berapi api Bu Desy menceritakan kepada saya ia mengatakan demikian :” Mas saya tertipu MLM..”. Nah sekarang Anda tahu bukan bahwa pada kebanyakan kasus yang terjadi pada prospek baru produk MLM dimana seorang prospek belum “ngeh” benar dengan produk tersebut tetapi si distributor terus nyerocos untuk mengejar “tutup poin” atau memperluas jaringannya, yang terjadi justru sebaliknya. Distributor itu dituduh menipu
MLM adalah cara bisnis yang berbeda, ibarat seseorang hendak mencari sebutir permata maka MLM akan mencarinya dengan menggali tanah bersama sama guna mendapatkan permata itu, kemudian membaginya dengan cara mereka sendiri. Tidak ada yang salah dalam bisnis ini, tetapi para pelaku MLM seringkali memodifikasi mantra mantra yang diberikan oleh leluhurnya kalau boleh saya katakan demikian. Seperti yang dikatakan kepada Ibu Desy bahwa dia tidak akan terikat memang tidak salah sepenuhnya. Karena MLM selalu mengatakan pasif income , pasif income, namun saya juga tetap melihat orang orang dengan “pangkat” tinggi di dalam sebuah MLM tetap bekerja merawat Grupnya dan downlinenya, apakah itu bukan bekerja ? Tawaran kebebasan finansial nampaknya masih menjadi senjata ampuh untuk menghipnosis para prospek MLM. Tetapi patut diingat bahwa berbisnis ala MLM tidak lebih seperti berbisnis konvensional, perlu modal, perlu ketekunan, perlu waktu, perlu komitmen bukankah pada dasarnya sama saja. MLM seolah mempunyai dunianya sendiri yaitu dunia dimana mereka memperdagangkan produknya. Perlu waktu yang sangat panjang untuk mengubah semua bisnis konvensional menjadi bisnis MLM, karena mereka sering mengatakan :” Kelak semua bisnis akan dibuat seperti (MLM ) ini “.
Belakangan mengapa banyak istilah “MLM” dikamuflasekan dengan istilah Networking atau Akses Marketing dan sebagainya ? Itu karena kata “MLM” sudah di cap sebagai penipu oleh kebanyakan orang. Tergantung kepada Anda apakah senang dengan bisnis ala MLM atau konvensional ? Karena MLM hanya sebuah pilihan saja.
Klik disini untuk mendapatkan info lebih lanjut tentang MLM

PS: Oh ya, saya ada informasi bagus tentang MLM yang sangat perlu Anda pelajari. Filenya ada di BOX.net di sebelah kanan halaman ini. Judul filenya mlmlies.pdf. Sebuah e-book yang pantas Anda baca, downloadlah secara gratis !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s