Facebook oh facebook..!!


Facebook Advertising
Jejaring ini belakangan menjadi terkenal karena semakin banyak saja orang orang yang mempunyai account di Facebook.  Selebriti, Politisi juga mempunyai Facebook.  Terlepas dari kontroversi yang mulai mencuat setiap ada sesuatu yang berkembang pesat, saya pribadi melihat sisi sisi positif dari jejaring ini.
Dalam kehidupan ini berhubungan dengan sesama manusia yang berlainan tempat biasa dilakukan dengan sarana surat menyurat sehingga kini sampai berkembang dengan surat elektronik ( e-mail ).  Kemudian berkembang situs jejaring seperti Friendster, Hi5 dan juga Facebook.  Ada yang mengatakan bahwa Facebook itu buang buang waktu dan tidak ada gunanya. Bahkan seorang rekan saya mengistilahkan Facebooking dengan “nyampah” atau menciptakan sampah di dunia maya yang akan semakin penuh saja seiring dengan bertambahnya anggota Facebook.
Sesuai dengan slogannya connecting and sharing maka itulah tujuan mendasar dari Facebook.  Berhubungan dan saling berbagi itulah yang akan dicapai oleh situs jejaring ini.  Banyaknya fasilitas atau aplikasi yang disediakan oleh pihak III yang kompatibel dengan Facebook, seolah mau menjangkau semua lapisan manusia yang mempunyai beragam hobi dan bidang kerja yang beratus ratus bahkan beribu ribu.  Tujuannya agar mereka bisa saling berkomunikasi ala Facebook.  Bagi saya pribadi cara ini lebih etis dibandingkan orang yang mencari kenalan dengan media media yang tidak sopan.  Betapa banyak di iklan internet orang orang yang menawarkan “hiburan” bagi yang merasa kesepian yang tentunya dengan imbalan uang, bahkan phone sex serta jasa jasa seksual lainnya.  Untuk berhubungan lewat Facebook kita harus mempunyai modal awal adalah alamat email pribadi kita dan alamat email rekan rekan kita yang nantinya akan kita undang sebagai rekan di Facebook.
Kegiatan pokok di perFacebookan sendiri ada banyak, mulai dari mencari teman, menerima teman ( bisa jadi juga teman hidup ), menyarankan teman yang mungkin dikenal, saling berkomentar, saling “poke” atau mencolek istilahnya, menulis notes yang bisa ditujukan secara khusus ( tagging ) untuk rekan tertentu, meng upload gambar/foto yang bisa juga di –tag dengan teman teman kita, bersurat lewat fasilitas inbox, menjadi fans dari orang tertentu, mengikuti grup sesama pehobi tertentu, memasang aplikasi, bermain Game secara online, beriklan, dan sebagainya.  Semua yang disediakan Facebook dibuat sedemikian lengkapnya sehingga semua keperluan bisa diakomodasi olehnya.  Pepatah Jawa mengatakan “Witing trisno jalaran saka kulina”, cinta timbul dari kebiasaan demikianlah artinya kurang lebih.  Namun cinta disini saya artikan lebih luas dari sekedar cinta Eros yang berdasarkan pada seksualitas belaka.  Saling memberi perhatian, saling menyapa, saling menasihati dan banyak lagi yang bisa kita lakukan di Facebook.  Bukankah ini sangat berguna bagi sebuah hubungan yang positif.  Bagi saya Facebook sangat bermanfaat.  Saya memperoleh banyak teman di Facebook, memang ada yang aktif dan ada yang sekedar say Hello.  Namun betapa rasa percaya bisa tumbuh dari sekedar berFacebook ria atau sekedar nyampah.  Tak kurang dari sahabat FB saya berlanjut sampai chat dengan saya tentang masalah pribadi yang dihadapinya.  Walah lha kok jadi buka praktek konsultasi.  Tetapi bukankah hidup ini saling memerhatikan ?  Apa sih yang kita bicarakan dengan teman teman dan sahabat ketika kita saling bertemu semacam reunian begitu? Say hello dan ngobrol tentang masa lalu, ngobrol tentang anak anak kita, kerjaan kita, berbagi pengalaman bersenda gurau dan sebagainya, apa itu semua sampah?? Tentunya bukan sampah.  Tetapi bagi saya bagaimana mengubah “sampah” itu menjadi bermanfaat bagi sesama.  Saking akrabnya beberapa rekan Facebook memanggil saya sebagai PAK RT entah karena usia saya yang sudah diatas mereka atau karena profil saya seperti RT.  Saya bersyukur memiliki rekan rekan Facebook dari berbagai kalangan dan berbagai suku, agama, ras antar golongan. Bahkan usia yang beragam mulai dari 15 tahun sampai yang lebih tua. Dari sini berkembang sifat saling toleransi yang baik, artinya bagaimana saya menempatkan diri kalau berbicara dengan rekan yang seusia anak saya, dan bagaimana pula kalau saya berbicara dengan orang seusia adik saya, atau sejajar saya atau juga yang lebih tua dari saya.  Bukankah ini mengajar kita akan banyak hal dalam hidup ini.  Sering berkunjung untuk sekedar say hello di Wall teman teman akan membuat kita bisa berinteraksi dengan lebih dekat lagi.  Sekedar catatan bahwa saya juga bertemu dengan saudara saya yang bahkan tinggal sekota namun jarang bertelepon apalagi berkunjung, karena kesibukan masing masing.  Namun setelah bertemu di Facebook justru keakraban itu muncul dan merasa lebih dekat lagi.  Nah apa mau dikatakan sampah juga Facebook ini?  Namun selalu saja “The Man behind The Gun”, Facebook laksana senjata juga, tergantung pemakainya apakah akan memberi manfaat atau justru menjadikan mudharat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s