Wanita obyek kekerasan (?)


Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap pihak terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1 UU KDRT).

Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu……
Demikian sebaris lagu yang judulnya nggak akan pernah saya ingat. Memang tidak ada tujuan sang penulis untuk membuat sebuah lagu yang rupanya agak memposisikan kaum hawa menjadi lemah. Namun demikianlah adanya sejak dahulu wanita dijadikan sebagai obyek penderita. Kekerasan dalam rumah tangga beritanya tidak pernah lekang. Selalu ada ada saja kalau kita perhatikan dalam berbagai News di televisi. Pria menganiaya istrinya, laki laki hidung belang menganiaya pasangan kencannya dan sebagainya. Secara fisik wanita memang diciptakan lebih lemah dari pria dan konon ceritanya bahkan wanita diciptakan oleh Sang Pencipta dengan menggunakan salah satu tulang rusuk pria. Bukankah sebenarnya ini merupakan sebuah simbolisme yang sangat manis, kesejajaran dengan pria. Menjadi pendamping bagi pria. Makna pendamping memang sangat luas mulai dari penolong, penasihat, penyeimbang, pengingat ( reminder ) , bahkan penghibur ( bagi pasangannya ). Tidak ada sama sekali wanita difungsikan sebagai obyek pelampiasan kekesalan oleh pria. Sungguh sesuatu yang tidak adil sekali, cobalah mengingat kembali akan ikrar atau janji atau apalah yang diucapkan pria saat dilakukan akad nikah dihadapan pemuka agama apapun. Pria menjadi pelindung dan wanita pihak yang dilindungi. Yang kuat menjadi pelindung yang lemah. Saya sering berkata dalam hati bilamana melihat kasus kasus KDRT, lah dulunya isteri itu akan diajak ngapain sih ? mau diajak bersama sama maju mengarungi samudera rumah tangga, atau mau diajak berkelahi ? Kalau cuma mau dianiaya mending tidak usah menikah dengan wanita saja. Pertengkaran tidak dilarang didalam sebuah rumah tangga, namun bila itu disertai dengan kekerasan, nggak banget lah menurut saya.
Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dalam tahun 2007 melaporkan bahwa dari 25000 kasus KDRT, 17.000 diantaranya dilakukan oleh suami terhadap isterinya. Wah sangat nista laki laki yang melakukannya. Kalau saya boleh mengatakan bahwa laki laki semacam itu sungguh tidak jantan ( banci kale ). Yah karena mereka hanya berani menganiaya perempuan yang notabene adalah isterinya sendiri.
Memang tidak semua kekerasan dalam rumah tangga selalu dipicu oleh perbuatan salah sang suami. Adapula yang karena isterinya selingkuh kemudian tertangkap tangan dan dianiaya. Tetapi tentu dengan prosentase yang kecil. Untuk menghindari KDRT maka sebaiknya antar suami dan isteri ada kesejajaran. Jadi bukan pihak pria yang menguasai wanita tetapi lebih kepada persamaan hak individu dalam berbagai hal. Sehingga bisa saling menghargai, melindungi. Kemudian pengertian yang salah kaprah bahwa KDRT merupakan urusan intern rumah tangga, perlu diluruskan kalau sudah menganiaya itu sudah melanggar hak kemerdekaan seseorang maka urusannya sudah memasuki kriminal. Langkah berikutnya adalah pandai pandailah mengelola konflik dalam rumah tangga. Memenej konflik dengan bijaksana akan mebawa keharmonisan dalam rumah tangga tetap terjaga. Tidak ketinggalan adalah kematangan cara berfikir masing masing individu dalam menghadapi masalah tentunya sangat menolong terhindarnya sebuah kejadian kekerasan dalam rumah tangga. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s