Pelajaran Bahasa Mandarin-siapa takut?


Agak terkejut juga saya mendengar kabar dari orang tua murid yang mengantar anaknya di pagi hari. Seperti kebanyakan orang tua murid, saya biasa ngobrol dengan sesama orang tua murid di sekolah anak saya. Pagi itu saya mendapat kabar kalau guru bahasa mandarin yang mengajar di sekolah Kevin, melemparkan 2 tas siswa kelas 3 kemudian menyuruh siswa kelas tiga itu untuk keluar. Tidak itu saja, salah seorang siswa juga merasa malas untuk belajar bahasa mandarin. Ia berkata pada ayahnya, ingin pindah sekolah saja karena guru mandarin tersebut galak. Bukan itu saja, apabila dijumpai ada kelas yang murid muridnya nakal, maka guru mandarin itu akan mematikan AC di kelas dan menutup rapat rapat pintu kelasnya.
Terlepas dari mengapa guru tersebut sampai berbuat seperti itu, saya berpikir apakah sebenarnya harus demikian sebuah bahasa diajarkan kepada siswanya. Mempelajari bahasa biasanya sekaligus mempelajari budayanya. Bukankah begitu? Misalnya saja kalau dalam pelajaran bahasa Jawa, maka ketika kita mengucapkan kata makan saja ada beberapa macam, tergantung kepada siapa kata tersebut diterapkan. Bisa “maem” jika diterapkan untuk diri sendiri, tetapi menjadi “dhahar” ketika diterapkan kepada ayah kita. Demikian pula bahasa Mandarin, mungkin saja budaya disiplin ala militer Cina yang diterapkan di dalam kelas. Tetapi nggak bener juga loh bila hal itu yang dilakukan guru mandarin anak saya. Mempelajari bahasa yang bukan bahasa ibu, tentunya tidak mudah, karena bahasa itu tidak dipakai dalam keseharian. Jadi seharusnya bahasa Mandarin diajarkan secara FUN atau dengan permainan permainan yang membuat anak menjadi senang. Ambillah contoh Bahasa Inggris, sulit? Yah memang sulit, tetapi dengan metode pengajaran yang menarik, anak lebih mudah menyerrapnya. Ada pelajaran mewarnai, melihat video, bercakap cakap dan sebagainya. Buatlah bahasa Mandarin menjadi menarik dan sangat ditunggu tunggu oleh siswa, bukannya menjadi mata pelajaran “hantu” yang ditakuti siswa. Beberapa orang tua murid mengatakan bahwa anaknya malas mengerjakan PR karena gurunya galak. Saya berharap disekolah yang menerapkan tiga bahasa ini sudah selayaknya bahasa mandarin mendapat perhatian juga dari Sekolah dan jajaran pengurusnya, agar tiga bahasa itu mendapat perhatian yang sama. Selamat mengevaluasi diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s